Mengapa
Bahasa Indonesia tidak bisa menjadi bahasa Internasional?
Bahasa merupakan sarana yang paling
ampuh dalam mendapatkan dan mentransfer hegemoni. Bahasa yang mampu mentransfer
hegemoni adalah bahasa yang modern, yang mampu digunakan untuk mengungkapkan
pikiran yang paling rumit sekalipun dengan cara yang tidak rumit.
Bagaimana dengan bahasa
Melayu/Indonesia? Sudah sejak lama keinginan menjadikan bahasa Melayu/Indonesia
sebagai bahasa internasional dan peradaban dunia. Sudah berbagai seminar dan
pertemuan bahasa dilaksanakan untuk membahas kemungkinan itu. Tahun 2008,
Majelis Bahasa Malaysia, Brunei dan Indonesia (Mabbim)–Majelis Sastra Asia
Tenggara (Mastera) melaksanakan Seminar di Jakarta untuk membahas strategi
pemartabatan bahasa dan sastra guna memantapkan budaya bangsa serumpun. Tahun
2007 di Pekanbaru diadakan Konferensi untuk menggagas agar bahasa Melayu
dijadikan bahasa resmi dunia dan diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebelumnya (tahun 2006) ada komunike bersama antara Indonesia-Malaysia-Brunei
untuk memperjuangkan bahasa Melayu menjadi bahasa resmi PBB.
Namun masih ada kegamangan, perasaan
kurang mampu, dan kesadaran bahwa bahasa Melayu/Indonesia belum mempunyai
kekuatan untuk berperan sebagai bahasa intenasional dan peradaban dunia. Apakah
yang kurang dalam bahasa Melayu/Indonesia sehingga hal itu sulit terwujud?
Kerisauan utama adalah ketidaksejalanan perkembangan bahasa Melayu/Indonesia
dengan laju Ipteks. Artinya, bahasa Melayu/Indonesia belum mampu mengimbangi
kemunculan istilah dalam Ipteks.
Pemakaian Bahasa Indonesia
Dari fakta-fakta itu, nyatalah bahwa sebuah bahasa akan dipelajari oleh bangsa lain apabila bahasa itu modern dan penutur aslinya memiliki keunggulan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan global. Lantas apa keunggulan bangsa Melayu/Indonesia untuk dijadikan sebagai alasan bagi bangsa lain mempelajarinya?
Dari fakta-fakta itu, nyatalah bahwa sebuah bahasa akan dipelajari oleh bangsa lain apabila bahasa itu modern dan penutur aslinya memiliki keunggulan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan global. Lantas apa keunggulan bangsa Melayu/Indonesia untuk dijadikan sebagai alasan bagi bangsa lain mempelajarinya?
Penduduk Indonesia, khususnya,
memang masuk dalam kategori 5 terbesar di dunia setelah China, India, Amerika
Serikat, dan Rusia. Akan tetapi, bahasa Indonesia hanya digunakan oleh orang
Indonesia, sebagian besar sebagai bahasa kedua. Masing-masing suku di Indonesia
mempunyai bahasa daerah yang lebih ekspresif dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam situasi resmi dan perhubungan antarsuku.
Apabila ditambah dengan negara-negara Asia Tenggara yang berbahasa Melayu maka
jumlah itu akan setara dengan Rusia.
Namun sekadar mengunggulkan jumlah
penduduk belum cukup membuat bahasanya jadi penting secara global. India,
misalnya, berpenduduk nomor dua terbesar setelah China, tetapi bahasa India
tidak begitu populer untuk dipelajari di dunia. Hal itu disebabkan karena
bahasa India terlalu bervariasi dan bahasa Urdu yang dijadikan bahasa nasional
tidak sanggup mempersatukan India sebagai sebuah bangsa dan budaya. Begitu juga
Indonesia, masih kuatnya bahasa daerah, menjadikan bahasa Indonesia sebagai
bahasa kedua, meskipun bahasa Indonesia mampu mempersatukan Indonesia sebagai
bangsa, tetapi belum sebagai sebuah budaya/peradaban. Kebudayaan etnis di
Indonesia masih diekspresikan dalam bahasa daerah. Walaupun ada upaya
penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, namun hal itu hanya untuk pelestarian,
bukan ekspresi yang sesungguhnya. Karya sastra Indonesia juga belum banyak
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing karena berbagai alasan.
Indonesia juga kurang diperhitungkan
dalam produksi Ipteks, ekonomi, dan perdagangan. Kurang diperhitungkannya mata
uang Rupiah di tingkat internasional menyebabkan ekonomi Indonesia mudah
collaps ketika terjadi krisis ekonomi. Indonesia hanya diperhitungkan dalam hal
pariwisata dan yang banyak dikenal hanya Bali. Bahkan masih banyak bangsa lain
yang tidak tahu bahwa Bali itu berada di Indonesia. Indonesia diperhitungkan
hanya sebagai jumlah penduduk yang banyak dalam konteks konsumen Ipteks,
ekonomi, dan perdagangan. Sebagai sebuah negara konsumen, bahasa Indonesia
tidak begitu diperlukan oleh banyak bangsa asing, kecuali segelintir orang yang
memang ingin meneliti, bekerja, berwisata, dan berdagang ke Indonesia.
Indonesia belum menjadi bangsa yang
mampu melindungi bangsa lain dari gangguan bangsa-bangsa seperti negara super
power: AS, Rusia, China, Inggris, dan Perancis. Sumbangan Indonesia untuk
perdamaian dunia belum menonjol. Peranan Indonesia di PBB juga tidak banyak
menentukan, belum mampu membuat bargaining position yang menguntungkan dengan
negara-negara lain. Dalam panggung politik global, Indonesia hanya memainkan
peranan yang kecil saja.
Oleh karena segala kekurangan dan
keterbatasan itu masih bolehkah kita berharap bahasa Indonesia menjadi bahasa
internasional atau menjadi bahasa peradaban dunia? Apakah itu tidak sekadar
mimpi yang tak jelas takwilnya?
Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?
Bukanlah sesuatu hal yang mustahil
bahasa Indonesia diperjuangkan menjadi bahasa internasional atau bahasa
peradaban dunia. Meskipun banyak faktor yang kurang mendukung untuk itu, tetapi
banyak pula faktor yang menguatkan agar bahasa Indonesia menjadi penting di dunia
global. Visi Pusat Bahasa telah mencantumkan keinginan itu, yaitu “Terwujudnya
lembaga penelitian yang unggul dan pusat informasi serta pelayanan yang prima
di bidang kebahasaan dan kesastraan dalam rangka menjadikan bahasa Indonesia
sebagai bahasa yang berwibawa dan bahasa perhubungan luas tingkat antarbangsa.”
Bahasa Indonesia merupakan bahasa
yang mempersatukan lebih dari 230 juta pendudukan Indonesia. Struktur bahasa
Indonesia lebih sederhana sehingga lebih mudah dipelajari. Bentuk tulisannya
tidak berbeda dengan bagaimana diujarkan—diujarkan sebagaimana dituliskan atau
dituliskan sebagaimana diujarkan. Bahasa Indonesia terbuka terhadap unsur dan
istilah asing. Di samping itu, bahasa Indonesia sudah mulai mampu mengungkapkan
berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai bahasa nasional, bahasa
Indonesia merupakan mata pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan.
Upaya penting dalam mengangkat
hegemoni bahasa Indonesia adalah pembakuan bahasa Indonesia sendiri. Bahasa
Indonesia harus dibakukan terlebih dahulu, baik strukturnya maupun kosa kata
dan peristilahannya. Upaya ke arah ini sudah sejak lama dilakukan Pusat Bahasa.
Sudah tersedia berbagai kamus istilah dalam berbagai bidang ilmu.
Persoalan menjadikan bahasa sebagai
bahasa internasional atau bahasa peradaban dunia tidak hanya terletak pada
entitas bahasa itu sendiri. Apa yang tadi disebut sebagai faktor hegemoni
justru lebih menentukan posisi suatu bahasa di pentas dunia. Sikap mental
bangsa terjajah perlu diubah. Kebanggaan terhadap bahasa sendiri perlu
ditingkatkan. Tugas ini terbeban pada lembaga kebahasaan seperti Pusat Bahasa
dan studi-studi kebahasaan di perguruan tinggi serta guru bahasa Indonesia.
Salah satu misi Pusat Bahasa adalah “Meningkatkan sikap positif masyarakat
terhadap bahasa dan sastra.” Pendidikan bahasa Indonesia harus dirancang dengan
tepat tidak saja terhadap kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga menanamkan
nilai-nilai berbahasa dan sikap berbahasa kepada anak didik.
sumber : http://www.atmazaki.net/?p=79


0 komentar:
Posting Komentar